Selasa, 26 Februari 2008

ini puisi anak negeri

Selamat datang di blog baru ini.
Mengapa judulnya begini? Mengingatkan Anda pada sebuah sajak yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono?
Ya, betul. Dan awalnya begini.....

Minggu lalu, saya main ke tempatnya bekerja, di Ciputat.
Di sana, kami bicara soal puisi-puisinya yang sering dikutip oleh para calon pengantin,
dipasang di kartu undangan dan liturgi ibadat perkawinan.
Kami tertawa-tawa membacanya.
Tapi kemudian termenung, sedih.

Penyebabnya, puisi yang dipasang di undangan itu.
Judulnya, Aku Ingin.

Di banyak undangan (biasanya diterima Pak Sapardi dari para pastor dan pendeta yang memberkati perkawinan itu), tertulis bahwa Aku Ingin ditulis oleh Kahlil Gibran.

Kahlil Gibran?
Aduh! Penyair dari Lebanon itu tidak pernah buat puisi atau tulisan berjudul Aku Ingin. Tidak pernah.
Bagaimana ini, mengapa bisa salah kaprah tidak jelas begini?

Lalu saya ceritakan pada Pak Sapardi, bahwa pada suatu malam di bulan Februari, di salah satu acara di TRANS TV, seorang penyanyi/artis terkenal, membacakan sebuah sajak. Katanya itu karya Kahlil Gibran. Bunyi puisinya.....

Aku Ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Pak Sapardi terkejut.
Pantaslah ia terkejut, mengingat salah satu pembesar TransTV sangat mengenalnya dan suka puisinya.
Masak bisa kebablasan begitu?
Ternyata bisa, Pak. Bisa....
Tak peduli orang kenal atau tidak, kesalahan yang menjengkelkan itu bisa terjadi.

Dari cerita saya itu, Pak Sapardi lantas melanjutkan dengan undangan-undangan yang memuat sajaknya sebagai 'kalimat sakti'. Dia bilang, para pastor sudah memberi tahu umatnya yang memasang puisi itu di buklet tata cara ibadat.
"Itu bukan karya Kahlil Gibran. Itu karya Pak Sapardi Djoko Damono, dosen UI."
Tapi apa kata pasangan yang sedang dimabuk cinta dan panik mau kawin itu?
"Tak mungkin Pastor, orang Indonesia tidak bisa bikin puisi seindah ini...."

Terlalu!
Terlalu.

Tega betul.

Saya marah.
Amat sangat.

Ini tidak bisa dibiarkan. Maka saya putuskan untuk membuat blog ini. Kecil memang, tapi biarlah. Setidaknya nanti, kalau ada yang mencari lagi untuk dikutip di undangan perkawinan, tahu dan paham bahwa penyairnya bukan Kahlil Gibran, tapi SAPARDI DJOKO DAMONO.

Ingat, Sapardi Djoko Damono nama penyair itu.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

pemred saya, sangat mengagumi puisi-puisi sapardai djoko damono, itu... terus terang saya tak pernah membaca utuh puisi-puisinya. yang saya baca hanya sepotong-sepotong, seperti aku ingin atau hujan di bulan juni itu..
di mana saya bisa dapatkan buku atau kaset musikalisasi puisi sapardi itu. saya tinggal di batam.
Ghazyan.wordpress.com